Mengerikan, Ternyata 20 Kekerasan Agama dalam Sebulan
Written by ema    Tuesday, 13 April 2010 16:21   
Tuesday, 13 April 2010 16:21
There are no translations available.

Rabu, 10 Februari 2010 | 01:11 WITA

JAKARTA, TRIBUN-TIMUR.COM - Ketua ICRP Siti Musdah Mulia Konferensi Nasional Lintas Agama atau Indonesian Conference Religion and Peace (ICRP) mengemukakan masih banyak tindak kekerasan berbasis agama. Bahkan Januari 2010 saja, ada 20 kasus terjadi di seluruh Indonesia. Atas kejadian-kejadian ini, ICRP menilai negara gagal memenuhi hak warga.

Negara gagal mempromosikan, melindungi dan meemenuhi hak kebebasan beragama dan berkeyakinan," tukas Siti Musdah seusia bertemu Wapres Boediono di Kantor Wapres, Jakarta, Selasa (9/2/2010). 
Menurut Siti, dalam banyak kasus, negara telah bertindak sebagai pelaku pelanggaran hak asasi manusia karena melarang aliran keagamaan dan keyakinan. Kasus lain, negara membiarkan warga atau organisasi keagamaan melakukan persekusi massal atas kelompok-kelompok keagamaan dan keyakinan lainnya yang berbeda. 
"Kami menilai negara mengingkari mandat konstitusi dan janji ratifikasi berbagai kovenan dan konvensi hak asasi manusia yang mengikat secara hukum dengan tetap mempertahankan berbagai perundang-undangan. Ini secara formal dan subtansial cacat hukum karena tidak sesuai dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia," paparnya.


Di tempat serupa, Romo Johannes Harjanto selaku Sekjen ICRP juga menyampaikannya berbagai persoalan kekerasan berbasis  gama kepada Wapres Boediono. "Pada bulan Januari 2010 ini saja kekerasan berbasis agama berkisar 20 kasus. Temasuk kasus di Bekasi beberapa waktu lalu (penyerangan massa pada dua gereja, Red). Kekerasan berbasis agama ini juga kerap dilakukan pemerintah dengan pelarangan, dan peraturan-peraturan yang melanggar kebebasan beragama," tegasnya. 
Johannes juga menyesalkan masih adanya kesalahan dalam menangani kasus kekerasan berbasis agama yang dilakukan aparat kepolisian. "Pemerintah terkadang salah memroses pelakunya. Yang diproses polisi korban, bukan pelaku kekerasan," ujarnya.


Konferensi Nasional Lintas Agama yang berlangsung selama dua hari pada bulan Oktober yang diikuti oleh 80 orang peserta yang terdiri dari tokoh-tokoh agama dan kepercayaan dari berbagai daerah Indonesia dan bertempat di Wisma Serba Guna Gelora Bung Karno telah menghasilkan rekomendasi,. Pertama, agar Presiden terpilih harus segera melakukan evaluasi dan meninjau ulang seluruh regulasi yang menghambat kebebasan beragama agar konsisten dengan kosntitusi.


Kedua. Presiden dan Wakil Presiden harus memastikan untuk tidak memberikan celah kepada munculnya aturan-aturan yang disasarkan pada agama tertentu dan yang mendiskriminasika kelompok-kelompok tertentu yang berdasarkan agama. (*)

 
ICRP Tolak Konsep Agama Diakui Pemerintah
Written by ema    Tuesday, 13 April 2010 16:18   
Tuesday, 13 April 2010 16:18
There are no translations available.

Selasa, 09 Februari 2010 | 11:42 WIB

TEMPO Interaktif, JAKARTA--Sekretaris Jenderal Indonesia Conference on Religion and Peace (ICRP) Johanes Hariyanto menolak pengakuan agama oleh pemerintah. Karena jika ada agama yang diakui, pasti juga ada agama yang tidak diakui. " Padahal agama lebih dulu ada dibanding Republik Indonesia berdiri," katanya usai bertemu Wakil Presiden Boediono di Kantor Wakil Presiden, Selasa (9/2). "Kami tolak prinsip agama resmi."

Selama ini, pemerintah hanya mengakui sejumlah agama, Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu dan Konghucu. Namun faktanya di masyarakat, sejumlah aliran kepercayaan dan penghayat merupakan kelompok minoritas. Dengan pengakuan secara resmi itu, terdapat kepercayaan kelompok minoritas yang tidak diakui pemerintah.

Johannes mengungkapkan, banyak kasus kelompok minoritas  tidak mendapatkan pelayanan hak sipil oleh pemerintah. Seperti tidak bisa mencatatkan pernikahan, akte kelahiran hingga seluruh hal yang menyangkut kewarganegaraan tidak bisa dilakukan. "Mereka juga bayar pajak, tapi tidak bisa sekolah dengan baik," katanya.

EKO ARI WIBOWO

http://tempointeraktif.com/hg/politik/2010/02/09/brk,20100209-224493,id.html

 
Gus Dur Yang Membela
Written by ema    Friday, 12 February 2010 12:34   
Friday, 12 February 2010 12:34
There are no translations available.

 

oleh: Ema Mukarramah

Ada banyak sisi yang dapat dikenang dari seorang Gus Dur, bapak bangsa yang telah tutup usia pada 30 Desember tahun lalu. Nenek Della, seorang sepuh dari kelompok miskin kota, mengenang Gus Dur sebagai orang yang membela kaum tertindas dan marjinal.

“Pada saat pemerintahan Gus Dur, tidak ada penggusuran,” tegasnya. Hadirin menyepakatinya dengan bertepuk tangan. 

Nenek Della menyampaikan refleksinya di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki Jakarta (9/02). Refleksi itu digelar untuk memperingati 40 hari wafatnya KH. Abdurrahman Wahid yang dikenal dengan sebutan Gus Dur. Diselenggarakan atas kolaborasi sejumlah lembaga swadaya masyarakat: Migrant Care, Koalisi Perempuan Indonesia, Kalyanamitra, Kapal Perempuan, Yayasan Pemantau Hak Anak, Yayasan Jurnal Perempuan, AMAN Indonesia, Urban Poor Consortium, LBH APIK Jakarta, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara dan ICRP.

Pembelaan Gus Dur terhadap gerakan perempuan juga dinyatakan oleh putrinya, Yenni Wahid. Menurut Yenni, Gus Dur adalah orang yang mendukung kampanye anti poligami, “sekalipun banyak koleganya yang melakukan poligami,” ungkap Yenni.

Gus Dur juga tanpa pamrih memberikan dukungan untuk perlindungan hak homoseksual. Testimoni dari Hartoyo, Sekum Our Voice, sebuah kelompok LGBT tidak dapat melegalisasikan keberadaannya karena tidak ada notaris yang mau menerima. Namun berkat rekomendasi dari Gus Dur, akhirnya kelompok itu kini dapat mencatatkan diri secara hukum. 

Turut menyampaikan testimoni adalah Musdah Mulia, Ketua Umum ICRP; Magdalena Sitorus, Komisi Perlindungan Anak Indonesia dan Dian Kartika Sari, Sekjen Koalisi Perempuan Indonesia. Dalam testimoninya, Musdah Mulia juga sempat mengingatkan, agar perjuangan Gus Dur selama ini untuk kebebasan beragama terus dilanjutkan.[]




 
Saatnya Bicara soal Laki-Laki
Written by ema    Monday, 21 December 2009 15:43   
Monday, 21 December 2009 15:43
There are no translations available.

Keterlibatan laki-laki dalam berbagai aspek gerakan perempuan secara tidak langsung telah memberikan kontribusi dalam mendukung pemajuan penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak-hak perempuan, namun masih banyak pertanyaan yang muncul di kalangan penggiat gerakan perempuan melihat keterlibatan laki-laki, ada yang mendukung namun tidak sedikit juga yang mencurigainya sebagai upaya untuk merebut kembali ruang gerak perempuan.

Read more...
 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 4


Sekretariat ICRP Jakarta
Jl. Cempaka Putih Barat XXI No.34, Jakarta 10520, Indonesia  
Tel. (62-21)42802349, 42802350, Fax. (62-21)4227243

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.