|
Written by ema
Wednesday, 12 May 2010 13:40
|
|
|
Wednesday, 12 May 2010 13:40 |
|
There are no translations available.
Djohan Effendi adalah salah satu sosok penting dalam upaya pengembangan kehidupan keagamaan yang lebih dialogis, harmonis, dan toleran dalam era Indonesia modern. Kehidupan keagamaan—baik intra maupun antaragama—seperti itu tentu saja merupakan kebutuhan yang senantiasa harus diperjuangkan, bukan hanya untuk umat beragama itu sendiri, tapi juga untuk kepentingan keberlanjutan negara-bangsa Indonesia.
Kesediaan pak Djohan ikut berjuang menegakkan hak-hak kebebasan beragama di Indonesia tidaklah setengah-setengah melainkan all-out. Ini dilakukan beliau sejak jaman Orde Baru, hingga sekarang.
|
|
|
|
|
Merayakan Kebebasan Beragama |
|
Written by redaksi
Friday, 15 January 2010 14:44
|
|
|
Friday, 15 January 2010 14:44 |
|
There are no translations available.
Judul : Merayakan Kebebasan Beragama- Bunga Rampai 70 Tahun Djohan Effendi
Penulis : Dawam Rahardjo, Mujibur rahman, Andreas A. Yewangoe, Franz Magnis Suseno, Martin Lukito Sinaga, Noorhadi Hasan, Greg Barton, Siti Mudah Mulia, Trisno Sutanto, dkk.
Editor :Elza Peldi Taher, Anick HT
Pengantar: Budhy Munawar Rachman
Epilog : Greg Barton
Isi : xxxviii+802 halaman
Penerbit : ICRP & Buku Kompas, 2009
Djohan Effendi (DE) adalah salah satu sosok juru damai berbasis pemikiran Islam. Sepak terjangnya dalam dunia pluralisme dan kehidupan toleransi umat beragama di Indonesia tak diragukan lagi. Untuk itulah buku bunga rampai Merayakan Kebebasan Beragama ini diterbitkan sebagai peringatan atas usianya yang ke-70 tahun. Menghimpun sebanyak 40 penulis, buku inimengumpulkan seraya memetakan sepak terjang perjalanan DE dalam kerukunan dan kebebasan umat beragama dari kacamata penulis-penulis terpilih yang notabene sahabat-sahabat DE.
|
|
|
|
Written by icrp
Wednesday, 19 August 2009 02:22
|
|
|
Wednesday, 19 August 2009 02:22 |
|
There are no translations available.
Dalam kamus sejarah ekonomi Indonesia, sepanjang abad ke-20 sejak masa kolonial Belanda sampai Indonesia merdeka, ada satu kata yang seolah-olah tidak pernah lepas dari negeri yang sering digambarkan sebagai kaya raya ini, yaitu kata ”krisis”. Kata ini muncul secara periodik, yang menunjukkan adanya rentetan atau siklus penderitaan dari waktu ke waktu yang melanda negeri ini, melintasi rezim-rezim yang berkuasa.
Akibatnya krisis tidak hanya terbatas mengisi ruang material-struktural masyarakat, melainkan juga merambah jauh ke ruang historis-kultural mereka. Satu demi satu kesulitan ekonomi itu mengisi ruang ingatan sosial masyarakat, baik mereka yang mengalaminya secara langsung maupun sebagai ingatan bersama, warisan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
|
|
|
|
|
|
|
|